PEMBENAHAN PULAU KEMBANG


Gambaran Pulau Kembang
Kawasan PRK P. Kembang dibatasi oleh 2 karakter fisik lingkungan alam yang berbeda. Pada sisi utara, barat dan selatan
dibatasi oleh wilayah perairan, yaitu Sungai Barito. Sedangkan di sebelah utara, timur dan selatan dibatasi oleh wilayah daratan, P. Kalimantan. Adanya karakter pembatas fisik berupa sungai, menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan yang unik dan menarik, karena memiliki 3 jenis kawasan yaitu sungai, pesisir dan daratan. Ketiga batas fisik ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan PRK, khususnya dalam pengelolaan kawasan. Ketiga batas fisik ini memiliki karakteristik yang berbeda dalam penanganannya.

Pulau Kembang Provinsi Kalimantan Selatan


P. Kembang dan sekitarnya, dengan konsentrasi pada lokasi P. Kembang, Pasar Terapung dan Koridor PHM. Noor, termasuk di dalam wilayah awasan rencana sebagian termasuk wilayah Kota Banjarmasin dan sebagian wilayah Kabupaten Barito Kuala. Kawasan rencana sebagian berada Kabupaten Barito Kuala (Desa P. Alalak dan Desa Tanggiran II , Kecamatan Alalak) dan sebagiannya lagi masuk wilayah Kota Banjarmasin (Kel. Kuin Selatan, Kuin Cerucuk, Kel.Pelambuan, Kel. Telaga Biru, dan Kel Basirih. Dengan demikian batas-batas administrasi kawasan PRK P. Kembang adalah sebagai berikut :
a. Batas Utara : Kawasan Pulau Alalak dan Sungai barito
b. Batas Selatan : kawasan Pelabuhan Trisakti da Sungai Barito
c. Batas Timur : kawasan Kecamatan Tamban (Kabupaten Barito Kuala)
d. Batas barat : kawasan Kecamatan Banjarmasin Barat (Kota Banjarmasin)
sejarah
Kawasan PRK P.Kembang merupakan salah satu koridor kawasan yang terkait dengan makna sejarah perkembangan Kota Banjarmasin pada masa awal. Makna awal sejarah pertumbuhan tersebut antara lain :
a. Pada bagian koridor sungai Barito terdapat beberapa pelabuhan tua, yang sebenarnya menjadi cikal bakal perkembangan Kota Banjarmasin. Banjarmasin dikenal dengan sebutan kota 1000 sungai, sehingga keberadaan pelabuhan ini menjadi bagian yang amat penting dalam sejarah pertumbuhan kota.
b. Terdapat peninggalan kuno yang terkait dengan sejarah Banjarmasin, antara lain : makam sultan Suriansyah dan masjid Sultan Suriansyah.
Taman Wisata alam (TWA) Pulau Kembang atau disebut juga Pulau Kembang memiliki sejarah yang masih misterius. Sejarah singkat tentang Pulau Kembang yaitu pada sekitar tahun 1698 pedagang-pedagang Inggris membuka Kantor dagang di Banjarmasin. Dimana ketika itu Hubungan Inggris dengan Kerajaan Banjar tidak begitu baik. Untuk menyingkirkan Pihak Inggris , Raja Banjar meminta penduduk asli pedalaman dari golongan Biaju yang hidup di pesisir Barito. Menurut laporan Hamilton tahun 1757 pada waktu malam hari telah turun ke Muara cerucuk orang Biaju sekitar 3000 orang. Mereka menyerang loji dan Benteng Inggris yang ada di pesisir Sungai Barito tersebut. Menurut cerita turun temurun bangkai kapal Inggris yang berada di Sungai Barito tersebut dalam perjalanannya mengalami “biang” sedimentasi di Sungai Barito, dimana kapal-kapal tersebut lambat laun ditumpuki oleh lumpur dari sungai barito sehingga menimbulkan sebuah “gosong” di tengah-tengah sungai Barito, yang kemudian menjadi Pulau Kembang.
Versi Pertama mengatakan bahwa tanah yang pipih yang seolah-olah muncul di permukaan air tersebut mengambang (meluap) sehingga Pulau Kembang juga dinamakan Pulau Maluap. Versi kedua mengatakan setelah pulau ini muncul di permukaan air dan ditumbuhi hutan , pulau ini menjadi habitat kera. Orang di pesisir Sungai Barito dan sekitarnya menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan jelmaan dari makhluk-makhluk gaib, sehingga Pulau tersebut akhirnya dijadikan tempat orang bernazar dengan membawa sesajen dan lain sebagainya, aktivitas ini juga konon dilakukan oleh salah seorang pemilik perusahaan kayu terkemuka nasional, dimana adanya klenteng di Pulau Kembang ini adalah hasil sumbangan dari pengusaha kayu tersebut kepada kera-kera yang ada di Pulau Kembang.
Saat ini klenteng yang berdiri menjadi salah satu ikon yang menjadi salah satu objek wisata pendukung di Pulau Kembang. Menteri Pertanian menetapkan kawasan ini sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor : 780/Kpts/Um/12/1976, tanggal 27 Desember 1976. Pada tahun 1992 areal seluas 6 Ha dikelola CV. Sinar Kencana dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 1568/ Menhut-II/1992 tanggal 3 September 1992. Selanjutnya pada tahun 1995 CV. Sinar Kencana memperoleh hak pengusahaan pariwisata alam di Pulau Kembang dengan jangka waktu 30 tahun.

Iklan
Categories: Keciptakaryaan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: