MELESTARIKAN BANGUNAN TRADISIONAL BANJAR (Revitalisasi Strategis Kalsel)


BANGUNAN ANNO 1925

Rumah Banjar atau Rumah ba-anjung adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain memiliki perlambang, memiliki penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.

Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Pada tahun 1871 pemerintah kota Banjarmasin mengeluarkan segel izin pembuatan Rumah Bubungan Tinggi di kampung Sungai Jingah yang merupakan rumah tertua yang pernah dikeluarkan segelnya. [1]Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan). Jadi nilainya sama dengan rumah joglo di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi). Dalam suatu perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung tersebut rumah dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah (alluvial) maupun lahan kering

bangunan tradisional bersejarah di kota Banjarmasin tepat di siring jalan Piere Tendean atau di samping sungai Martapura, berdiri tahun 1925 atau lebih terkenalnya dengan sebutan bangunan ANNO 1925. Perbedaan bangunan tradisional ini dibandinngkan bangunan tradisonal bersejarah di daerah adalah konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu Ulin. Coba lihat kondisinya;

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dua buah rumah tradisional Banjar yang ada di proyek siring Tendean, yang salah satunya bertuliskan Anno 1925, tidak saja khas dari segi ornamennya seperti dikutip dalam artikel ‘Ornamen Banjar Luluhkan Hati Yudhi’ (Bpost, Sabtu 24 Oktober 2009), tapi juga termasuk tipologi bangunan rumah Banjar tipe Palimasan 2 lantai yang masih tersisa saat ini dan sudah jarang sekali bisa ditemukan di Kota Banjarmasin. Selain itu dilihat dari konteks tempat dimana bangunan itu berdiri seakan mewakili sebuah kearifan nenek moyang kita dalam ber-arsitektur dengan merancang rumah panggung 2 façade, merespon pasang surut air sungai dan iklim tropis serta budaya lokal (kehidupan tepi air). Jika ditanya apa yang khas dari Kota Banjarmasin? Apa yang membuat turis lokal maupun mancanegara tertarik untuk berkunjung ke kota ini? Tak lain dan tak bukan adalah kekhasan budaya kehidupan seribu sungai dan arsitektur tradisionalnya.

Di awal era globalisasi, hampir semua kota bisa dikatakan memiliki wajah yang hampir sama dengan gaya arsitektur modernnya dilengkapi jendela-jendela kaca (curtain wall) dan bangunan kotak pencakar langit. Namun saat ini paradigma perencanaan kota sudah mulai berubah, ada sebuah kesadaraan kolektif dari kota-kota di dunia untuk tampil berbeda, lain dari yang lain, yang direpresentasikan dalam bentuk lingkungan binaan. Ada yang tampil dengan bangunan-bangunan iconic kontemporer seperti Guggenheim Museum Bilbao karya Frank Gehry di Spanyol, namun ada pula yang mencoba mempertahankan bangunan dan kawasan bersejarah dengan arsitektur lokalnya yang khas, ataupun menggabungkan kedua-nya dengan pendekatan adaptive reuse dan infill development.

Gerakan konservasi ini tidak hanya ditujukan untuk menarik devisa asing, namun lebih dari itu untuk menciptakan sense of belonging – perasaan kepemilikan dan kebangaan dari warga kota terhadap lingkungannya dengan terus memelihara keterikatan dengan budaya dan sejarah. Dari rasa kepemilikan ini diharapkan akan timbul rasa tanggung jawab, rasa sayang untuk memelihara dan meningkatkan kualitas kotanya.

Singapura, dengan pembangunannya yang begitu pesat, di awal tahun 60-an sempat menghancurkan hampir sebagian besar arsitektur dan kawasan bersejarahnya yang bercirikan deretan shop houses atau rumah toko dengan arcade pejalan kaki yang menerus. Kawasan ini dulunya identik dengan permukiman kumuh, kemudian berganti dengan bangunan-bangunan beton pencakar langit dan apartemen (HDB housing), namun apa jadinya kemudian? jumlah turis yang berkunjung menurun drastis.

Untunglah di tahun 1980an, muncul kesadaran untuk membangun sebuah identitas sebagai salah satu kota Asia yang ‘Uniquely Singapore’ dengan melestarikan bangunan dan kawasan bersejarah dengan karakter arsitektur dan aktivitas masyarakat multietnis yang unik seperti Little India, Chinatown dan Kampong Glam. Dengan konsep perencanaan kota yang integral dan dilengkapi rencana detail, bangunan-bangunan lama dan bersejarah direnovasi dan dialihfungsikan menjadi restauran, café, kantor, dan fungsi publik lainnya (adaptive reuse) yang menunjang vitalitas kawasan tersebut. Disamping itu bangunan baru bisa berdiri berdampingan secara harmonis  dengan bangunan lama tanpa harus merobohkannya (infill development).

Kasus si Anno 1925 dan siring Tendean bisa menjadi kasus perancangan kota yang sangat menarik dengan menggabungkan pendekatan pembangunan ruang publik kota dengan unsur-unsur budaya melalui pelestarian arsitektur tradisional Banjar dan budaya tepi sungai.  Ciri-ciri ruang publik yang berhasil adalah apabila semua warga kota tua, muda dan anak-anak dari berbagai latar belakang bisa mengakses dan menikmati ruang tersebut untuk berbagai aktifitas dengan nyaman, sehingga tercipta interaksi sosial. Selain itu ruang publik tersebut juga aktif digunakan secara kontinyu siang dan malam baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Oleh sebab itu sering kali perancangan ruang publik tidak hanya memperhatikan segi desain fisiknya saja tapi juga memikirkan tentang program, yang salah satunya adalah dengan membangun fasilatas-fasilitas publik sebagai penunjang seperti perpustakaan, kantor pos, taman bermain, restauran, internet café dan lain-lain. Sehingga dengan keberadaan pengguna yang terus-menerus akan mengurangi tindak kriminal dan vandalisme terhadap fasilitas publik (natural surveillance).

Sayembara Pengembangan Desain dan Konsep Kota Banjarmasin Berbasis Sungai telah melahirkan konsep dan gagasan yang cemerlang tentang perencanaan kota kedepannya dengan menekankan pada isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Dimana salah satu unsurnya adalah mengakomodasi keberlanjutan budaya lokal dari generasi ke generasi dan teraspirasinya kebutuhan masyarakat setempat (participatory planning). Semoga status si Anno 1925 dan temannya tidak hanya ‘menunda pembongkaran’ tapi memang benar-benar ‘tidak dibongkar’.

bangunan Anno 1925 ini oleh pemerintah Kota Banjarmasin bangunan ini dijadikan situ budaya, semoga bangunan kelenteng juga akan di jadikan situ.

Iklan
Categories: Keciptakaryaan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: